TUGAS KEWIRAUSAHAAN
Nama : Isma Saputro
NPM : 30407460
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2010
Pengertian Kewirausahaan
Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803).
Kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi
Hakikat Kewirausahaan
Pada dasarnya hakikat kewirausahaan merujuk pada sifat, watak dan cirri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh. Jadi inti kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Dalam konteks manajemen wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumberdaya (money, materials, man, teknologi/machine, untuk menghasilkan suatu bisnis baru, produk baru, proses produksi ataupun pengembangan organisasi usaha. Sekaligus mempunyai kombinasi elemen-elemen (unsur-unsur) internal yang mencakup kombinasi visi, motivasi, komunikasi, optimism, dorongan semangat dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha. Menurut Edi Swasono (1978) berkenaan dengan aspek bisnis, wirausaha adalah pengusaha tetapi tidak semua pengusaha adalah wira usaha.
MANFAAT KEWIRAUSAHAAN
Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran
Sebagai generator pembangunan lingkungan di bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan dan sebagainya.
Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial sesuai dengan kemampuannya
Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri, disiplin, jujur, tekun dalam menghadapi pekerjaan
Memberi contoh kepada orang lain, bagaimana kita harus bekerja keras
Hidup secara efisien, tidak berfoya-foya dan tidak boros
CIRI-CIRI JIWA WIRAUSAHA
1. Percaya diri
Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Dalam praktik, sikap dan kepercayaan ini merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimisme, individualitas, dan ketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan
2. Berorientasi pada tugas dan hasil
Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah orang yang selalu mengutamakan nilai nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan berinisiatif.
Berinisiatif artinya selalu ingin mencari dan memulai. Untuk memulai diperlukan niat dan tekad yang kuat, serta karsa yang besar. Sekali sukses atau berprestasi, maka sukses berikutnya akan menyusul, sehingga usahanya semakin maju dan semakin berkembang.
3. Keberanian mengambil resiko
• Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif.
• Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan
• Dengan demikian, keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistik. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas tugasnya secara realistik.
• Artinya, wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai. Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil.
4. Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepernimpinan, kepeloporan, keteladanan. la selalu ingin tampil berbeda lebih dulu lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan keinovasiannya, ia selalu menampilkan barang dan jasa jasa yang dihasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu dan segera berada di pasar.
5. Berorientasi ke masa depan
• Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena ia memiliki pandangan yang jauh ke masa depan, maka selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada sekarang. Meskipun dengan risiko yang mungkin terjadi, ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaharuan masa depan.
• Pandangan yang jauh ke depan, membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada sekarang. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.
6. Kreatif inovatif
• Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru (thinking new things) dan keinovasian adalah melakukan sesuatu yang baru (doing new things).
• Kreatifitas diartikan sebagai kemampuan mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan mencari peluang.
Keinovasian diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan taraf hidup.
• Oleh karena itu, kewirausahaan adalah "thinking and doing new things or old thinks in new ways" Kewirausahaan adalah berpikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru.
7. Memiliki tenaga dalam
A. Memiliki tenaga dalam artinya bahwa seorang wirausaha harus memiliki :
1. Keuletan,
2. Ketabahan,
3. Ketekunan,
4. Kejujuran
5. Kedisiplinan
6. Ketulusan
7. Keikhlasan
8. Kesopanan, keramahan dll.
Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.
Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta.
Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.
Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek finansial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono, 2002 : 48)
Data Diatas Dari Beberapa Sumber
Susetya Hadi Kewirausahaan Pusat Pengembangan Bahan AJAR – UMB
SLAMET AHMADI, MM. ppt
Sabtu, 16 Oktober 2010
Senin, 17 Mei 2010
Tugas 3 Etika Profesi/ isma saputro /30407460/3ID03
NAMA : ISMA SAPUTRO
KELAS : 3ID03
NPM : 30407460
MATA KULIAH : ETIKA PROFESI
1. Jelaskan alasan perlunya pendidikan etika profesi dalam bidang keteknikan! Apa yang akan terjadi bilamana profesi keteknikan tanpa dilandasi dengan etika?
2. Dalam rangka menjunjung tinggi integritas, kehormatan dan martabat profesi keteknikan sesuai dengan kode etik profesi keteknikan menurut ABET terdapat 4(empat) prinsip dasar (fundamental principles) yang harus dilakukan oleh insinyur. Jelaskan empat hal tersebut!
3. Jelaskan 6 (enam) pilar utama yang menjadi penyangga kode etik keteknikan !
4. Intelectual capital merupakan modal utama untuk menciptakan kesejahteraan manusia di masa kini dan yang akan datang. Salah satu jenis dari intelectual capital adalah kekayaan intelectual (intelectual property). Jelaskan berbagai jenis kekayaan intelektual yang terkait dengan bidang keteknikan ! Bagaimana kita menyikapinya secara profesional ?
5. Salah satu syarat untuk menjadi profesional adalah dimilikinya kompetensi dalam bidangnya. Sehubungan dengan hal tersebut jelaskan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh Sarjana Teknik Industri !
1. Perlu sekali karena membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi.Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya. Jika tidak dilandasi etika maka akan banyak hal-hal yang akan menyimpang dari standar etika, yang akan berakibat fatal bagi banyak orang.
2. Empat prinsip dasar (fundamental principles) menurut ABET adalah sebagai berikut:
3. 6 (enam) pilar utama
4. Jenis kekayaan intelektual antara lain:
KELAS : 3ID03
NPM : 30407460
MATA KULIAH : ETIKA PROFESI
TUGAS 3
1. Jelaskan alasan perlunya pendidikan etika profesi dalam bidang keteknikan! Apa yang akan terjadi bilamana profesi keteknikan tanpa dilandasi dengan etika?
2. Dalam rangka menjunjung tinggi integritas, kehormatan dan martabat profesi keteknikan sesuai dengan kode etik profesi keteknikan menurut ABET terdapat 4(empat) prinsip dasar (fundamental principles) yang harus dilakukan oleh insinyur. Jelaskan empat hal tersebut!
3. Jelaskan 6 (enam) pilar utama yang menjadi penyangga kode etik keteknikan !
4. Intelectual capital merupakan modal utama untuk menciptakan kesejahteraan manusia di masa kini dan yang akan datang. Salah satu jenis dari intelectual capital adalah kekayaan intelectual (intelectual property). Jelaskan berbagai jenis kekayaan intelektual yang terkait dengan bidang keteknikan ! Bagaimana kita menyikapinya secara profesional ?
5. Salah satu syarat untuk menjadi profesional adalah dimilikinya kompetensi dalam bidangnya. Sehubungan dengan hal tersebut jelaskan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh Sarjana Teknik Industri !
Sender : SUDARYANTO, IR, MSC
JAWAB:
JAWAB:
1. Perlu sekali karena membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi.Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya. Jika tidak dilandasi etika maka akan banyak hal-hal yang akan menyimpang dari standar etika, yang akan berakibat fatal bagi banyak orang.
2. Empat prinsip dasar (fundamental principles) menurut ABET adalah sebagai berikut:
- Menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia; maksudnya jika tidak menggunakan pengetahuan dan keterampilan maka akan banyak hal yang menyimpang dan karya yang diciptakannya akan berdampak negative, sehingga membahayakan kelangsungan hidup manusia.
- Bersikap jujur dan tidak memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, pengusaha dan klien; maksudnya apa yang kita kerjakan harus jujur, karena dengan begitu apa yang kita buat akan mendapatkan respon yang baik juga.
- Berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan gengsi profesi rekayasa. Maksudnya sesuai dengan kemajuan teknologi, persangian pasar dan permintaan pasar. Maka teknologi selalu harus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi agar tidak tertinggal atau ketinggalan.
- Mendukung organisasi profesional dan teknis dari disiplin ilmu. Maksudnya semua apa yang dilakukan harus sesuia dengan displin ilmu dan professional, agar tidak berdampak negative bagi kelangsungan hidup manusia dan kehidupan di bumi.
3. 6 (enam) pilar utama
- Insinyur akan terus penting keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam pelaksanaan tugas profesional mereka. Maksudnya hal seperti itu harus menjadi prioritas utama, karena agar kita bisa nyaman atau tidak was-was dalam bekerja memikirkan hal-hal diatas.
- Insinyur akan melakukan layanan hanya di bidang kompetensi mereka.
- Insinyur harus mengeluarkan pernyataan publik hanya dalam hal obyektif dan jujur.
- Insinyur harus bertindak dalam hal-hal profesional untuk setiap majikan atau klien sebagai agen yang setia atau pengawas, dan harus menghindari konflik kepentingan.
- Insinyur akan membangun reputasi profesional mereka pada jasa layanan mereka dan tidak akan bersaing secara tidak adil dengan orang lain.
- Insinyur harus bertindak sedemikian rupa untuk menegakkan dan meningkatkan kehormatan, integritas, dan martabat profesi.
- Insinyur harus melanjutkan pengembangan profesional mereka melalui karir mereka dan akan memberikan peluang untuk pengembangan profesional yang insinyur di bawah pengawasan mereka.
4. Jenis kekayaan intelektual antara lain:
- Hak cipta (copyright)
Hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan salinannya. Pembuat sebuah ciptaan memiliki hak penuh terhadap ciptaannya tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. Hak-hak tersebut misalnya adalah hak-hak untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut, hak untuk membuat produk derivatif, dan hak-hak untuk menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain. Hak cipta berlaku seketika setelah ciptaan tersebut dibuat. Hak cipta tidak perlu didaftarkan terlebih dahulu.
2. Paten (patent)
Berbeda dengan hak cipta yang melindungi sebuah karya, paten melindungi sebuah ide, bukan ekspresi dari ide tersebut. Pada hak cipta, seseorang lain berhak membuat karya lain yang fungsinya sama asalkan tidak dibuat berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak cipta. Sedangkan pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat sebuah karya yang cara bekerjanya sama dengan sebuah ide yang dipatenkan.
3. Merk dagang (trademark) Merk dagang digunakan oleh pebisnis untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau layanan. Merk dagang meliputi nama produk atau layanan, beserta logo, simbol, gambar yang menyertai produk atau layanan tersebut.
4. Rahasia dagang (trade secret)
Berbeda dari jenis HAKI lainnya, rahasia dagang tidak dipublikasikan ke publik. Sesuai namanya, rahasia dagang bersifat rahasia. Rahasia dagang dilindungi selama informasi tersebut tidak ‘dibocorkan’ oleh pemilik rahasia dagang.
secara professional kekayaan intelektual yang kita miliki harus dihargai, dihormati, dan mendapat apresiasi, karena orang yang telah susah payah kerja keras untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu tidak mendapat pengakuan malah pembajakan secara besar-besar yang di peroleh. Apabila pembajakan tidak diberantas maka tindakan itu merupakan tindakan tidak bermoral dan tidak menghargai hasil kerja keras seseorang dalam menghasilkan karyanya.
5. Secara umum lulusan sarjana Teknik Industri, sesuai dengan Kurikulum Inti Teknik Industri se-Indonesia harus memiliki kompetensi utama sebagai berikut:
3. Merk dagang (trademark) Merk dagang digunakan oleh pebisnis untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau layanan. Merk dagang meliputi nama produk atau layanan, beserta logo, simbol, gambar yang menyertai produk atau layanan tersebut.
4. Rahasia dagang (trade secret)
Berbeda dari jenis HAKI lainnya, rahasia dagang tidak dipublikasikan ke publik. Sesuai namanya, rahasia dagang bersifat rahasia. Rahasia dagang dilindungi selama informasi tersebut tidak ‘dibocorkan’ oleh pemilik rahasia dagang.
secara professional kekayaan intelektual yang kita miliki harus dihargai, dihormati, dan mendapat apresiasi, karena orang yang telah susah payah kerja keras untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu tidak mendapat pengakuan malah pembajakan secara besar-besar yang di peroleh. Apabila pembajakan tidak diberantas maka tindakan itu merupakan tindakan tidak bermoral dan tidak menghargai hasil kerja keras seseorang dalam menghasilkan karyanya.
5. Secara umum lulusan sarjana Teknik Industri, sesuai dengan Kurikulum Inti Teknik Industri se-Indonesia harus memiliki kompetensi utama sebagai berikut:
- Mampu mengidentifikasikan, memformulasikan, dan memecahkan masalah-masalah perancangan maupun perbaikan sistem integral yang terdiri dari manusia, material, informasi, peralatan dan energi secara kreatif dengan menggunakan alat-alat pokok analitikal, komputasional dan eksperimental.
- Mampu mengimplementasikan hasil-hasil pemecahan masalah dan mempunyai wawasan luas sehingga dapat memahami dampaknya terhadap konteks sosial, lingkungan dan konteks lokal maupun global.
- Mampu beradaptasi terhadap teknik dan alat analisis baru yang diperlukan dalam menjalankan praktek profesi ke-teknik-industrian-nya.
- Mampu berkomunikasi dan bekerja-sama secara efektif.
- Memahami dan menyadari tanggung jawab profesi dan etika.
Kamis, 15 April 2010
Tugas 1 Isma Saputro/30407460 Etika Profesi
Nama : Isma Saputro
Kelas : 3ID03
NPM : 30407460
Materi : Etika Profesi ( Tugas 1 )
Tugas 1
1. Jelaskan pengertian, cakupan dan tujuan dari etika profesi
2. Jelaskan perbedaan profesi dan pekerjaan, berikan contoh !
3. Apa yang dimaksud dengan kode etik. Jelaskan prinsip dasar kode etik dan pilar utama kode etik ?
Jawab
Kelas : 3ID03
NPM : 30407460
Materi : Etika Profesi ( Tugas 1 )
Tugas 1
1. Jelaskan pengertian, cakupan dan tujuan dari etika profesi
2. Jelaskan perbedaan profesi dan pekerjaan, berikan contoh !
3. Apa yang dimaksud dengan kode etik. Jelaskan prinsip dasar kode etik dan pilar utama kode etik ?
Jawab
1. Etika profesi keteknikan adalah keseluruhan tuntutan moral yang harus ada dalam pelaksanaan sebuah profesi keteknikan. Secara konkret hal itu terwujud dalam kode etik yang merupakan kumpulan kewajiban yang mengikat para profesional dalam prakteknya memiliki idealisme tinggi dan realistis, yaitu sikap dan tindakannya dilandasi oleh motivasi untuk mau melaksanakan hal-hal yang luhur. Cakupannya adalah semua pekerjaan yang berkaitan dengan suatu profesi yang menyangkut etika.
Tujuan pokok dari etika profesi keteknikan antara lain :
• Standar-standar etika, yang menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab kepada l lembaga dan masyarakat umum.
• Membantu para profesional dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat dalam mengahadapi dilema pekerjaan mereka.
• Standar etika bertujuan untuk menjaga reputasi atau nama para profesional.
• Untuk menjaga kelakuan dan integritas para tenaga profesi.
• Standar etika juga merupakan pencerminan dan pengharapan dari komunitasnya, yang menjamin pelaksanaan kode etik tersebut dalam pelayanannya.
• Standar-standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati kitab UU etika (kode etik) profesi dalam pelayanannya.
• Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi.
• Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya.
2. Profesi adalah kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan keahlian tinggi, untuk memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, dimana pemakaian dengan cara yang benar keterampilan dan keahlian yang tinggi hanya dapat dicapai dengan penguasaan pengetahuan, serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut. Sedangkan pekerjaaan (occupation) adalah setiap aktivitas kerja, baik yang menghasilkan imbalan ataupun yang bersifat sukarela (tanpa imbalan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Profesi merupakan bagian dari pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan adalah profesi.
• Contoh profesi adalah Masinis, Nahkoda, Dokter, konsultan, arsitek, Desain Engineer, Akunting dapat dikatakan sebagai sebuah profesi karena seseorang yang bekerja pada bidang tersebut haruslah memiliki pengetahuan dan memiliki pengalaman kerja di bidangnya, atau keahlian khusus
• Contoh pekerjaan adalah pekerjaan sebagai Kondektur bis, Petugas Parkir, Pemulung ini semua tidak masuk dalam golongan profesi jika untuk bekerja pada bagian tersebut tidak membutuhkan latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman tertentu.
3. Kode Etik adalah yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Kode Etik Prinsip Dasar Insinyur menegakkan dan memajukan integritas profesi engineering dengan:
1. Menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia;
2. Bersikap jujur dan tidak memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, pengusaha dan klien;
3. Berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan gengsi profesi rekayasa, dan
4. Mendukung organisasi profesional dan teknis dari disiplin mereka.
Pilar Dasar
1. Insinyur akan terus penting keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam pelaksanaan tugas profesional mereka.
2. Insinyur akan melakukan layanan hanya di bidang kompetensi mereka.
3. Insinyur harus mengeluarkan pernyataan publik hanya dalam hal obyektif dan jujur.
4. Insinyur harus bertindak dalam hal-hal profesional untuk setiap majikan atau klien sebagai agen yang setia atau wali, dan harus menghindari konflik kepentingan.
5. Insinyur akan membangun reputasi profesional mereka pada jasa layanan mereka dan tidak akan bersaing secara tidak adil dengan orang lain.
6. Insinyur harus bertindak sedemikian rupa untuk menegakkan dan meningkatkan kehormatan, integritas, dan martabat profesi.
7. Insinyur harus melanjutkan pengembangan profesional mereka sepanjang karir mereka dan akan memberikan peluang untuk pengembangan profesional yang insinyur di bawah pengawasan mereka.
• Standar-standar etika, yang menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab kepada l lembaga dan masyarakat umum.
• Membantu para profesional dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat dalam mengahadapi dilema pekerjaan mereka.
• Standar etika bertujuan untuk menjaga reputasi atau nama para profesional.
• Untuk menjaga kelakuan dan integritas para tenaga profesi.
• Standar etika juga merupakan pencerminan dan pengharapan dari komunitasnya, yang menjamin pelaksanaan kode etik tersebut dalam pelayanannya.
• Standar-standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati kitab UU etika (kode etik) profesi dalam pelayanannya.
• Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi.
• Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya.
2. Profesi adalah kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan keahlian tinggi, untuk memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, dimana pemakaian dengan cara yang benar keterampilan dan keahlian yang tinggi hanya dapat dicapai dengan penguasaan pengetahuan, serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut. Sedangkan pekerjaaan (occupation) adalah setiap aktivitas kerja, baik yang menghasilkan imbalan ataupun yang bersifat sukarela (tanpa imbalan). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Profesi merupakan bagian dari pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan adalah profesi.
• Contoh profesi adalah Masinis, Nahkoda, Dokter, konsultan, arsitek, Desain Engineer, Akunting dapat dikatakan sebagai sebuah profesi karena seseorang yang bekerja pada bidang tersebut haruslah memiliki pengetahuan dan memiliki pengalaman kerja di bidangnya, atau keahlian khusus
• Contoh pekerjaan adalah pekerjaan sebagai Kondektur bis, Petugas Parkir, Pemulung ini semua tidak masuk dalam golongan profesi jika untuk bekerja pada bagian tersebut tidak membutuhkan latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman tertentu.
3. Kode Etik adalah yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Kode Etik Prinsip Dasar Insinyur menegakkan dan memajukan integritas profesi engineering dengan:
1. Menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia;
2. Bersikap jujur dan tidak memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, pengusaha dan klien;
3. Berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan gengsi profesi rekayasa, dan
4. Mendukung organisasi profesional dan teknis dari disiplin mereka.
Pilar Dasar
1. Insinyur akan terus penting keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam pelaksanaan tugas profesional mereka.
2. Insinyur akan melakukan layanan hanya di bidang kompetensi mereka.
3. Insinyur harus mengeluarkan pernyataan publik hanya dalam hal obyektif dan jujur.
4. Insinyur harus bertindak dalam hal-hal profesional untuk setiap majikan atau klien sebagai agen yang setia atau wali, dan harus menghindari konflik kepentingan.
5. Insinyur akan membangun reputasi profesional mereka pada jasa layanan mereka dan tidak akan bersaing secara tidak adil dengan orang lain.
6. Insinyur harus bertindak sedemikian rupa untuk menegakkan dan meningkatkan kehormatan, integritas, dan martabat profesi.
7. Insinyur harus melanjutkan pengembangan profesional mereka sepanjang karir mereka dan akan memberikan peluang untuk pengembangan profesional yang insinyur di bawah pengawasan mereka.
Rabu, 14 April 2010
…” CiNtA tiDak aKan DatanG …
Bila kaMu menunGgu seSeoRanG
yang seMpuRna tuk kaMu ciNtai…
Tapi CiNta itu akaN DaTanG biLa
kaMu meNeRimA keTiDak sempuRnAan seSeoRanG tuK kamu ciNtai….
kaReNa KamU hiDuP di DuNia iNi bukaN TuK
mEncaRi Yang semPuRna tuK kamu CiNtai
aKan teTapi tuk BeLajaR MenCinTai SeseOranG Yang tidak Sempurna dengan CaRa yang SemPurna….
…karena manusia tidak ada yang sempurna..
Bila kaMu menunGgu seSeoRanG
yang seMpuRna tuk kaMu ciNtai…
Tapi CiNta itu akaN DaTanG biLa
kaMu meNeRimA keTiDak sempuRnAan seSeoRanG tuK kamu ciNtai….
kaReNa KamU hiDuP di DuNia iNi bukaN TuK
mEncaRi Yang semPuRna tuK kamu CiNtai
aKan teTapi tuk BeLajaR MenCinTai SeseOranG Yang tidak Sempurna dengan CaRa yang SemPurna….
…karena manusia tidak ada yang sempurna..
Tugas 2 Isma Saputro / 30407460
Nama : Isma Saputro
NPM : 30407460
Kelas : 3ID03
Materi : Etika Profesi
1. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari!
2. Jelaskan paham kantianisme dan berikan contohnya!
3. Paham utilitariansme banyak dianut oleh para profesional di bidang keteknikan. Jelaskan alasannya!
Jawab
1. Dilema moral adalah Situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus membuat keputusan tentang perilaku seperti apa yang tepat untuk dilakukannya dan biasanya hati dan tidakkan tidak sesuai. Contoh: seorang dokter harus berbohong kepada pasiennya tentang penyakit demi kesembuhannya.
2. Kantianisme - adalah sebagai pengikut paham dari Immanuel Kant. Tokoh besar aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804), sehingga disebut juga sebagai Kantianisme. Selain disebut Kantianisme, aliran ini juga disebut etika non-konsekuensialisme, karena penekanannya pada kewajiban maka pemikiran ini sebagai etika kewajiban. Pandangan dasar dari pemikiran etika ini adalah bahwa penilaian baik atau buruknya suatu tindakan didasarkan pada penilaian apakah tindakan tersebut sebagai baik atau buruk. Baik atau buruknya tindakan tidak terlepas dari motivasi, kemauan baik, dan watak si pelaku. Demikian halnya tindakan baik adalah suatu kewajiban. Suatu tindakan baik dilakukan bukan saja sesuai dengan kewajiban, tetapi juga dijalankan demi kewajiban pula. Akan tetapi, aliran ini tidak hendak menekankan peranan akal budi teoritis dan sintesenya dalam pemikiran religius, melainkan mencari interpretasi baru terhadap agama dalam hubungan dengan akal budi praktis, hidup moral dan kebangkitan zaman empiris. Contoh: bekerja menghasilkan uang dari sisa uang itu kita sisihkan atau sumbangkan kepada yang membutuhkan.
3. Utilitarianisme berpegang pada kaidah dasar: bahwa sesuatu dikatakan baik atau benar, bukan karena sesuatu itu dinyatakan baik oleh Tuhan atau masyarakat; sesuatu dinyatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mempunyai nilai utility (nilai guna bagi kebaikan manusia). Kalangan utilitarian kemudian mendefinisikan apa yang dimaksud nilai guna (utility) itu. Secara umum biasanya mereka mengartikan utility dengan kebahagiaan (happiness). Jadi, menurut mereka, sesuatu dikatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan bagi hidup manusia. Utilitarianisme dalam perkembangannya pernah menjurus pada faham hedonisme: apapun, obat-obatan, mabuk atau apapun, yang penting membuat kita senang adalah baik. Namun tidak semua kaum utilitarian setuju dengan model penafsiran utility yang bernuansa hedonisme seperti ini. Mereka tidak setuju dengan model kesenangan jasadiyah seperti ini, karena itu mengajuakan tiga model penafsiran lain yakni: pengalaman yang bernilai bagi kehidupan, keberagaman pilihan, dan keberagaman pilihan yang rasional. Dengan begitu, kebahagiaan sekarang diartikan sebagai tercapainya pengalaman yang bernilai bagi kehidupan atau ketersedianya pilihan yang rasional.
NPM : 30407460
Kelas : 3ID03
Materi : Etika Profesi
1. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari!
2. Jelaskan paham kantianisme dan berikan contohnya!
3. Paham utilitariansme banyak dianut oleh para profesional di bidang keteknikan. Jelaskan alasannya!
Jawab
1. Dilema moral adalah Situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus membuat keputusan tentang perilaku seperti apa yang tepat untuk dilakukannya dan biasanya hati dan tidakkan tidak sesuai. Contoh: seorang dokter harus berbohong kepada pasiennya tentang penyakit demi kesembuhannya.
2. Kantianisme - adalah sebagai pengikut paham dari Immanuel Kant. Tokoh besar aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804), sehingga disebut juga sebagai Kantianisme. Selain disebut Kantianisme, aliran ini juga disebut etika non-konsekuensialisme, karena penekanannya pada kewajiban maka pemikiran ini sebagai etika kewajiban. Pandangan dasar dari pemikiran etika ini adalah bahwa penilaian baik atau buruknya suatu tindakan didasarkan pada penilaian apakah tindakan tersebut sebagai baik atau buruk. Baik atau buruknya tindakan tidak terlepas dari motivasi, kemauan baik, dan watak si pelaku. Demikian halnya tindakan baik adalah suatu kewajiban. Suatu tindakan baik dilakukan bukan saja sesuai dengan kewajiban, tetapi juga dijalankan demi kewajiban pula. Akan tetapi, aliran ini tidak hendak menekankan peranan akal budi teoritis dan sintesenya dalam pemikiran religius, melainkan mencari interpretasi baru terhadap agama dalam hubungan dengan akal budi praktis, hidup moral dan kebangkitan zaman empiris. Contoh: bekerja menghasilkan uang dari sisa uang itu kita sisihkan atau sumbangkan kepada yang membutuhkan.
3. Utilitarianisme berpegang pada kaidah dasar: bahwa sesuatu dikatakan baik atau benar, bukan karena sesuatu itu dinyatakan baik oleh Tuhan atau masyarakat; sesuatu dinyatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mempunyai nilai utility (nilai guna bagi kebaikan manusia). Kalangan utilitarian kemudian mendefinisikan apa yang dimaksud nilai guna (utility) itu. Secara umum biasanya mereka mengartikan utility dengan kebahagiaan (happiness). Jadi, menurut mereka, sesuatu dikatakan baik kalau sesuatu yang dimaksud itu mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan bagi hidup manusia. Utilitarianisme dalam perkembangannya pernah menjurus pada faham hedonisme: apapun, obat-obatan, mabuk atau apapun, yang penting membuat kita senang adalah baik. Namun tidak semua kaum utilitarian setuju dengan model penafsiran utility yang bernuansa hedonisme seperti ini. Mereka tidak setuju dengan model kesenangan jasadiyah seperti ini, karena itu mengajuakan tiga model penafsiran lain yakni: pengalaman yang bernilai bagi kehidupan, keberagaman pilihan, dan keberagaman pilihan yang rasional. Dengan begitu, kebahagiaan sekarang diartikan sebagai tercapainya pengalaman yang bernilai bagi kehidupan atau ketersedianya pilihan yang rasional.
Jumat, 04 Desember 2009
operasinal riset 2
OPERASIONAL RISET 2
DISUSUN OLEH :
Nama/NPM : Isma Saputro / 30407460
Kelas : 3 ID03
E-Mail : ismamejus@yahoo.com
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2009
TEORI PERMAINAN
Berikut ini adalah pembahasan berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan dengan pemecahan melalui metode (Teori Permainan).
1 Studi Kasus
Dua buah perusahaan yang memiliki produk sama,yaitu sepeda motor. Bersaing untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada, dengan mengandalkan strategi yang dimiliki. A mengandalkan 2 strategi dan B menggunakan 3 strategi.
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
Harga
Mahal (S2)
Dari kasus diatas, bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan, untuk mendapatkan hasil optimal.
2 Penyelesaian Strategi Murni
Penyelesaian data diatas dengan menggunakan Strategi Murni, adalah sebagai berikut:
Langkah 1
Untuk pemain baris (persh.A), pilih yang paling kecil untuk setiap baris, yaitu baris satu nilai terkecilnya 2 dan baris dua nilainya 5.
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
2
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
5
Harga
Mahal (S2)
Langkah 2
Untuk pemain kolom (persh.B), pilih nilai yang paling besar, yaitu kolom satu 6, kolom dua 10 dan kolom tiga 5. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut, pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B, yakni 5, mengapa karena (rugi yang paling kecil).
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
2
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
5
Harga
Mahal (S2)
Minimax
6
10
5
Langkah 3
Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama, yakni masing-masing memilih nilai 5, maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.
Kesimpulan
Hasil optimal di atas, dimana masing-masing perusahaan memilih nilai 5, artinya bahwa perusahaan A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar, namun hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 5, bila menggunakan strategi harga mahal (S2). Sedangkan perusahaan B, meskipun menginginkan kerugian yang diperoleh adalah sekecil mungkin, namun kerugian yang paling baik bagi B adalah 5, dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan memilih strategi harga mahal (S3).
Pemilihan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi perusahaan A dan meningkatnya kerugian bagi perusahaan B, atau tidak dapat diselesainya persaingan atau permainan yang ada.
3 Studi Kasus Strategi Campuran
Dari kasus diatas, karenaadanya perkembangan pasar, maka perusahaan A, yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. Sekarang menambah satu lagi strategi bersaingnya dengan mengeluarkan produk harga sedang, dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
Harga
Mahal (S3)
Dari perkembangan kasus di atas, bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing perusahaan atau pemain, agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung, keuntungan tersebut besar, dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil).
4 Penyelesaian Strategi Campuran
Langkah 1
Pertama-tama kita selesaikan dengan menggunakan strategi murni. Langkah-langkahnya sama dengan penjelasan di atas, bagi perusahaan baris akan menggunakan aturan maximin dan perusahaan kolom akan menggunakan aturan minimax. Nilai baris satu yang paling kecil nilainya adalah 4, baris dua nilainya -3, dan baris tiga nilainya 3. Selanjutnya dari dua nilai terkecil, pilih nilai yang paling besar, yaitu 4.
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
-3
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
3
Harga
Mahal (S3)
Langkah 2
Untuk pemain kolom, pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom. Kolom satu terbesar 8, kolom dua terbesar 7, dan kolom tiga terbesar 15. Dari tiga nilai terbesar dipilih nilai yang paling baik atau kecil yaitu 7 ( rugi yang paling kecil).
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
-3
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
3
Harga
Mahal (S3)
Maximin
8
7
15
Langkah 3
Dari table diatas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama dimana pemain A memilih nilai 4 dan pemain B memilih nilai dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.
Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran, yaitu langkahnya sebgai berikut:
Langkah 4
Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan dan kerugian yang paling buruk. Bagi A (S2) adalah strategi terburuk, karena dapat menimbulkan kerugian ( ada minus). Dan bagi B (S3) adalah paling buruk karena dapat menimbulkan kerugian terbesar.
Langkah 5
Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang strategi S3, diperoleh table sebagai berikut:
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
(q)
(1-q)
Perusahaan A
Strategi
4
7
Harga
Murah (S1)
(p)
Strategi
8
3
Harga
Mahal (S3)
(1-p)
Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. Selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemungkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. Untuk perusahaan A, bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p, maka kemungkinan keberhasilan digunakan strategi S3 adalah (1-p). Begitu pula pemain B, bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 sebesar q, maka kemungkinan keberhasilan digunakan strategi S2 (1-q).
Langkah 6
Mencari besaran probabilitas setiap strategi untuk menghitung sadle point yang optimal.
Untuk perusahaan A
Bila strategi A direspon B dengan S1:
4p + 8(1-p) = 4p + 8 – 8p = 8 – 4p
Bila strategi A direspon B dengan S2:
7p + 3(1-p) = 7p + 3 – 3p = 3 + 4p
Kedua persamaan digabungkan, maka:
8 – 4p = 3 + 4p
5 = 8p
P = 5/8 = 0,625
Apabila p= 0,625, maka nilai (1-p) adalah (1-0,625) =0,375, sehingga kedua probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. Keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah:
Pers ke-1 Pers ke-2
= 4p + 8 (1-p) = 7p + 3 (1-p)
= 4(0,625) + 8 (0,375) = 7 (0,625) + 3 (0,375)
= 5,5 = 5,5
Perhatikan, bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama yakni sebesar 5,5, yang berarti memberikan peningkatan sebesar 1,5. Mengingat keuntungan A hanya 4 (langkah 1).
Langkah 7
Perhitungan untuk perusahaan B adalah sebagai berikut:
Bila strategi B direspon A dengan S1:
4q + 7 (1-q) = 4q + 7 – 7q = 7 – 3q
Bila strategi B di respon A dengan S2:
8q + 3(1-q) = 8q + 3 – 3q = 3 + 5q
Bila digabung pers, diatas diperoleh:
7 – 3q = 3 + 5q
4 = 8q
q = 4/8 = 0,5 maka (1-q) = (1 - 0,5) = 0,5
Pers. ke-1 Pers. ke-2
= 4q + 7 (1-q) = 8q + 3 (1-q)
= 4 (0,5) + 7 (0,5) = 8 (0,5) + 3 (0,5)
= 5,5 = 5,5
Kerugian minimal yang diharapkan sama, yaitu 5,5. Pada langkah pertama kerugian minimal adalah 7, dengan demikian dengan strategi ini B bisa menurunkan kerugian sebesar 1,5.
Kesimpulan
Strategi campuran memberikan saddle point 5,5. Nilai tersebut memberi peningkatan keuntungan bagi perusahaan A dan penurunan kerugian bagi perusahaan B masing-masing sebesar 1,5.
METODE PENCABANGAN DAN PENYIMPULAN
(BRANCH AND BOUND METHODS)
Metode pencabangan dan penyimpulan (branch and bound methods) adalah suatu teknik dalam mencari solusi suatu permasalahan yang tidak merujuk pada suatu prosedur yang spesifik tapi lebih merupakan suatu pendekatan umum tidak memecahkan berbagai tipe permasalahan. Berikut ini adalah pembahasan berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan dengan pemecahan melalui metode (branch and bound methods).
1 Studi Kasus
Penugasan staf ahli keuangan dalam mengaudit keuangan perusahaan di kantor cabang PT. Dwi Tunggal. Tersebar di beberapa kota, yang bergerak atau beroperasi dalam bidang konveksi Datanya sebagai berikut:
Staf Ahli Perusahaan
Kantor Cabang
Surabaya
Makasar
Bali
Batam
Padang
1.
5
16
25
32
15
2.
40
20
18
22
10
3.
10
12
14
35
20
4.
15
30
21
17
11
5.
20
10
15
12
30
PT. Dwi Tunggal ingin membuka kantor cabang di beberapa daerah, pemilik perusahaan ingin menugaskan staf ahli perusahaan sesuai bagiannya ke
lima daerah tersebut agar mendapatkan anggota yang maksimum. Solusi persoalan penugasan dengan menggunakan algoritma branch and bound.
2 Penyelesaiannya
Langkah pertama kita tugaskan seluruh staf ahli perusahaan ditugaskan ke kantor cabang yang berada di Surabaya, seperti ini pencabangannya:
Gambar 1. Branching dan Bonding
Selanjutnya kita membuat partisi atas set dari 25 kemungkinan penugasan kedalam lima subset. Subset pertama terdiri dari semua penugasan dimana staf ahli perusahaan ditugaskan ke daerah Surabaya. Kesemuanya ini akan di tujunkan oleh sebuah Node yang bercabang dari Node 0 seperti ditujukan pada gambar 1.
Bonding ( Penyatuan / Ikatan ).
Simpul (Node) pada ujung-ujung cabang dari struktur pohon disebut sebagai simpul ujung (tip nods), maka diperoleh lima tip nodes. Hitung “Upper Bound
O
LB = 0
1 = Surabaya
UB = 121
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
(UB)” dari masing-masing Up nods yang akan memberikan solusi yang paling optimistic dari persoalan tersebut.
1. Start Node 1
Staf ahli perusahaan ke-1 yang ditugaskan ke daerah Surabaya adalah: 5 + 30 + 21 + 35 + 30 = 121 (upper bound). Bahwa UB = 121 berkorespondensi dengan sebuah Infeasible Assignment sebut saja: 1 – Surabaya, 4 – Makasar, 4 – Bali, 3 – Batam, 5 - Padang.
2. Node-2:
Tugaskan staf ke- 2 ke daerah Surabaya adalah: 40 + 30 + 25 + 35 + 30 = 160, ini menunjukan sebuah Fesiable Assignment. 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang.
3. Node-3
Tugaskan staf ahli ke-3 kedaerah Surabaya adalah: 10 + 30 + 25 + 32 + 30 = 127, ini menunjukan sebuah Infesiable Assignment. 3- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 1- Batam, 5- Padang.
4. Node-4
Tugaskan staf ahli ke-4 kedaerah Surabaya adalah: 15 + 20 + 25 + 35 + 30 = 125, ini menunjukan sebuah Fesiable Assignment. 4- Surabaya, 2- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang.
5. Node-5
Tugaskan staf ahli ke-5 ke daerah Surabaya adalah: 20 + 30 + 25 + 35 + 20 = 130, ini menunjukan sebuah Infeasible Assignment. 5- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 3- Padang.
Dari nodes pada gambar 1 dapat diartikan, sebagai berikut:
Node 0 : Menunjukan set dari semua kemungkinan penugasan staf ahli perusahaan pada kantor cabang di daerah.
Node 1 : Menunjukan subset dari penugasan yang menunjukan staf ke-1 pada daerah Surabaya, dan berlaku untuk seterusnya node 2, 3, 4, dan 5.
Fathoming
Adalah proses penempatan Node yang mana tidak “menjanjikan” dan apakah suatu Lower Bound yang baru untuk persoalan ini dapat ditentukan dalam memcahkan persoalan penugasan proses fathoming terdiri atas langkah-langkah berikut:
A. Periksalah top nodes yang baru untuk melihat apakah sebuah atau lebih node tersebut menunjukan suatu solusi yang feasible. Bila tidak ada feasible solution di antara tipe – node yang baru lanjutkan kelangkah (c), bila ya lanjutkan ke langkah (B).
B. Pilih solusi feasible yang memiliki nilai UB yang terbesar. Bila nilai UB ini kemudian “disimpan” sebagai “calon” solusi sekarang kita katakan bahwa solusi baru ini telah di fathomed dan tidak kita butuhkan lagi untuk mempertimbangkan tip node ini pada langkah branching.
C. Fathom semua top node yang nilai UB nya kurang dari atau semua dengan nilai calon saat ini ( Current Incumbent ).
fathomed
Gambar 2. Branching dan Bonding
Pada kasus ini kita memperoleh suatu solusi feasible untuk persoalan ini yakni memilih nilai 160 seperti ditujunkan oleh node 2. Hal ini memberitahukan
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
bahwa solusi optimal pada persoalan penugasan memiliki sebuah nilai uang sekurang-kurangnya sebesar 160. Node 2 sekarang dapat di fathomed yakni tidak perlu lagi untuk mempertimbangkan node 2 atau persoalan ini dari LB = 0 ke LB = 160 ( pada node 0 ) top nodes yang lain adalah 1, 3, 4, dan 5. Semuanya memiliki upper bound yang kurang dari 160, sehingga kita belum bisa mem “fathom” node-node tersebut, hasil dari fathomingini ditujukan pada gambar 2.
Node 2 dengan nilai 160 disebut incumbent solusi (calon). Ia akan tetap sebagai calon solusi hingga solusi feasible lain yang memiliki nilai yang lebih tinggi didapatkan. Perlu diingat bahwa alas an menyebut 160 sebagai upper bound, suatu solusi feasible. Jadi solusi optimal atas persolan ini akan lebih kecil atau sama dengan 160.
Langkah 2: PENUGASAN PADA DAERAH MAKASAR
1. BRANCHING / PENCABANGAN
Daerah Surabaya
Fathomed Daerah Makasar
Gambar 3. Branching dan Bonding
Masih ada empat subet yang belum di Fathomed ( node 1, 3, 4, dan 5 ) selanjutnya pilih salah satu dari percabangan ( branching ). Pilih yang memiliki
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
1 = Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
UB tertinggi, yakni node 2, staf ke-2 ditugaskan pada daerah Surabaya. Sehingga tinggal staf 1, 3, 4, dan 5 yang ditugaskan pada daerah selanjutnya atau daerah Makasar.
2. Bounding
Untuk node 2 tidak ikut dalam penugasan ke daerah makasar, karena sebagai incumbent solution ( calon ), dan karena masih belum sempurna dalam penugasan yaitu masih adanya infesiable maka dipilih UB terbesar yaitu, node 2 UB = 160.
Untuk penugasan ke daerah Makasar
1. Node- 1
Tugaskan staf ke- 1 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 1- Makasar, 4- Bali, 3- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 16 + 21 + 35 + 30 = 142. Feasibel.
2. Node- 3
Tugaskan staf ke- 3 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 3- Makasar, 1- Bali, 1- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 12 + 25 + 32 + 30 = 139. Infeasibel.
3. Node- 4
Tugaskan staf ke- 4 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 30 + 25 + 35 + 30 = 160. Feasibel.
4. Node- 5
Tugaskan staf ke-5 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 5- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 3- Padang. UB = 40 + 10 + 25 + 35 + 20 = 130. Infeasibel.
Karena masih ada yang belum feasible, maka dilakukan percabangan kembali, dengan melihat nilai terbesar pada UB, yaitu: pada Node- 4 dengan UB = 160. Tapi untuk Node- 4 tidak perlu ikut penugasan ke daerah selanjutnya yaitu Bali. Berikut ini adalah percabangannya.
Daerah Surabaya
Fathomed
Gambar 4. Branching dan Bonding
Berdasarkan data keterangan diatas, bahwa aka nada penugasan staf ke daerah bali mereka itu: 1- bali, 3- bali, dan 5- bali.
1. Node- 1
Tugaskan staf ke-1 pada daerah Bali, yaitu: 1- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 3- Batam, 5- Padang. UB = 25 + 40 + 30 + 35 + 30 = 160. Feasible.
2. Node- 3
Tugaskan staf ke- 3 pada daerah Bali, yaitu: 3- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Batam, 5- Padang. UB = 14 + 40 + 30 + 35 + 30 = 146. Feasible.
3. Node- 5
Tugaskan staf ke- 5 pada daerah Bali, yaitu: 5- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 3- Batam, 3- Padang. UB = 15 + 40 + 30 + 35 + 20 = 140. Infeasible.
Karena masih ada yang belum feasible maka penugasan masih harus berlangsung ke daerah terakhir yaitu padang. Nilai UB terbesar ada pada Node- 1, maka node- 1 tidak ikut ke penugasan itu yang ikut hanya node- 3 dan 5. Berikut adalah pencabangannya:
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
1 = Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
Daerah Makasar
F
i
i
i
1 = Bali
UB = 160
3 = Bali
UB = 146
5 = Bali
UB = 140
Daerah Bali
Bounding
Penugasan staf ahli perusahaan ke kantor cabang di daerah-daerah berikut:
1. 3- Batam, 5- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160. Feasible.
2. 5- Batam, 3- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
12 + 20 + 40 + 30 + 25 = 127. Feasible.
Fathoming
Feasible solution = 160. Fathomed semua tip node lain karena mereka memiliki UB valvue = 160.
Stop
Pencabangan dihentikan karena sudah mendapatkan solusi optimal disini.
Solusi optimal.
Adalah calon sembarang ( “current incumbent” )
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160.
KESIMPULAN
Maka pemimpin perusahaan dapat menugaskan staf ahli perusahaan ke kantor cabang didaerah-daerah tersebut:
0
LB = 160
1= Surabaya
UB = 121
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1= Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
1= Bali
UB = 160
3 = Bali
UB = 146
5 = Bali
UB = 130
3= Batam
UB = 160
5 = Batam
UB = 142
Staf ahli perusahaan 3 dapat ditugaskan ke kantor cabang yang berada didaerah Batam. Staf ahli perusahaan 5 dapat ditugaskan ke kantor cabang yang berada didaerah Padang. Staf ahli perusahaan 2 dapat ditugaskan kekantor cabang didaerah Surabaya. Staf ahli perusahaan 4 dapat ditugaskan ke kantor cabang 1 didaerah Makasar. Staf ahli perusahaan dapat ditugaskan ke kantor cabang didaerah Bali. \
Jadi permasalahan pada perusahaan ini sudah dapat diselesaikan, penugasan staf ahli perusahaan sudah memperoleh kontrak personil yang maksimum.
3- Batam, 5- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160. Feasible.
MAKROV CHAIN
Disebuah pusat perbelanjaan sedang diadakan pameran Handphone terbaru selama 2 hari. Dengan criteria harga dan kualitas yang berberda, yaitu harga sedang dengan kualitas baik, dan harga tinggi dengan kualitas lebih baik. Dari pameran tersebut ingin mengetahui tingkat penjualan handphone yang paling diminati oleh para konsumen.
Dari hasil pameran tersebut selama 2 hari, tiap harinya dipilih 100 orang dengan data sebagai berikut:
Tipe
Hari
Pertama
Kedua
A
60
40
B
80
20
Keterangan:
Tipe A: Harga sedang kualitas baik
Tipe B: Harga mahal kualitas lebih baik
Dari data di atas buatlah probabilty matrix pengunjung lebih menyukai Handphone yang mana?
Solusi
State 1: konsumen memilih Tipe A
State 2: konsumen memilih Tipe B
P= = = = X
π 1 = 0,7 π 1 + 0,8 π 2
π 2 = 0,3 π 1 + 0,2 π 2
π 1 = 0,7 (1 - π 2) + 0,8 π 2
π 1 = 0,7 - 0,7 π 2 + 0,8 π 2
π 1 = 0,7 + 0,1 π 2
1 - π 2 = 0,7 + 0,1 π 2
0,3 = 0,9 π 2
π 2 = 0,3/0,9
= 0,33
π 1 + π 2 = 1
π 1 = 1 - 0,33
= 0,67
Jadi probability untuk state 1 sebesar 0,67 dan untuk state 2 sebesar 0,33. Pengunjuk lebih banyak membeli Handphone dengan Tipe A (harga sedang dengan kualitas baik), di banding Handphone dengan Tipe B (harga mahal dengan kualitas lebih baik).
POHON KEPUTUSAN
Perusahaan Garmen “Benang Sari” adalah perusahaan garmen yang memproduksi berbagai jenis pakaian yaitu: kaos, kemeja, jeans, dan jaket. Semula kaos merupakan produk yang paling unggul. Pada trendnya penjualan kaos dapat mencapai 65% dari seluruh penjualan kaos di pasaran. Tetapi akhir-akhir ini penjualan kaos tersebut sedikit menurun, dan tinggal menguasai 18% dari seluruh penjualan kaos di pasaran.
Melihat kodisi seperti itu pihak perusahaan melakukan tindakan secepatnya, agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang terus meningkat. Pihak perusahaan dihadapi oleh 3 pilihan, pilihan pertama dengan mengadakan kegiatan pengembangan produk yang tujuannya untuk meningkatkan kualitasnya: kedua, meneruskan penjualan kaos tanpa mengadakan perubahan apapun: ketiga, menghentikan produksi kaos seluruhnya.
Apabila ia melakukan pengembangan produk peluang untuk berhasil sebesar 0,90 dengan keuntungan 300 juta dan peluang gagal sebesar 0,10 dengan kerugian sebesar 30 juta. Apabila ia tetap tanpa mengadakan perubahan apapun peluang berhasil sebesar 0,30 dengan keuntungan 150 juta dan peluang untuk gagal sebesar 0,70 dengan kerugian 105 juta.
Pemilik perusahaan tidak yakin dengan keputusan tersebut manankah yang terbaik yang akan diplih, jadi buatlah diagram keputusan dari kasus diatas.
Produk Baru
Stop Line Kaos
Produk lama
Berhasil
Gagal
Berhasil
Gagal
300 juta
- 30 juta
150 juta
105 juta
0.90
0.10
0.30
0.70
b. Probabilitas Penambahan menu akan berhasil
P ( Berhasil) = 0,90
P (Gagal) = 0,10
Probabilitas menu seperti biasa
P ( Berhasil) = 0.30
P (Gagal) = 0.70
Tambah menu = ( 0.90 x 300.000.000 ) + ( 0.10 x (-30.000.000) )
= 270.000.000 - 3.000.000 = Rp. 267.000.000,-
Menu seperti biasa = ( 0.30 x 150.000.000 ) + ( 0.70 x (-50.000.000 )
= 45.000.000 - 35.000.000 = Rp.10.000.000 ,-
Jadi Pemilik perusahaan harus melakukan pengembangan produk untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
TEORI ANTRIAN
Kedatangan penumpang kereta api yang sedang antri membeli tiket di loket, mengikuti distribusi poisson dengan tingkat kedatangan rata-rata 17 / jam. Misalkan secara rata-rata setiap penumpang dilayani 2 menit dan waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial. Setelah system dalam keadaan steady state, tentukan hal-hal berikut!
a. Probabilitas 4 pengantri dalam system (P4)
b. Rata-rata banyaknya pengantri dalam system (L)
c. Rata-rata banyaknya pengantri yang sedang antri (Lq)
d. Rata-rata waktu menunggu dalam system (W)
e. Rata-rata waktu antri (Wq)
f. Proporsi waktu nganggur pelayanan
Jawab:
Tingkat kedatangan rata-rata (λ) = 17/jam
Tingkat pelayanan rata-rata (μ) = 20/jam
R = 17/20 = 0,85
a. P4 = (1-R) (Rn)
= ( 1- 0,85) ( 0,852)
= 0,108375
b. L = = 0,85 / 0,15 = 5,67 penumpang
c. Lq = = (0,85)2 / ( 0,15) = 4,82 penumpang
d. W = = 1 / 20 – 17 = 0,34 jam = 20, 4 menit
e. Wq = = = 0,28 jam = 16, 8 menit
f. Po atau I = 1 – R = 1 – 0,85 = 0,15
Kesimpulan
Rata-rata banyak pengantri dalam system sekitar 5 penumpang, waktu untuk mengantri sekitar 17 menit dan waktu menunggu dalam system sekitar 20, 4 menit.
DISUSUN OLEH :
Nama/NPM : Isma Saputro / 30407460
Kelas : 3 ID03
E-Mail : ismamejus@yahoo.com
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2009
TEORI PERMAINAN
Berikut ini adalah pembahasan berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan dengan pemecahan melalui metode (Teori Permainan).
1 Studi Kasus
Dua buah perusahaan yang memiliki produk sama,yaitu sepeda motor. Bersaing untuk mendapatkan keuntungan dari pangsa pasar yang ada, dengan mengandalkan strategi yang dimiliki. A mengandalkan 2 strategi dan B menggunakan 3 strategi.
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
Harga
Mahal (S2)
Dari kasus diatas, bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing pemain atau perusahaan, untuk mendapatkan hasil optimal.
2 Penyelesaian Strategi Murni
Penyelesaian data diatas dengan menggunakan Strategi Murni, adalah sebagai berikut:
Langkah 1
Untuk pemain baris (persh.A), pilih yang paling kecil untuk setiap baris, yaitu baris satu nilai terkecilnya 2 dan baris dua nilainya 5.
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
2
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
5
Harga
Mahal (S2)
Langkah 2
Untuk pemain kolom (persh.B), pilih nilai yang paling besar, yaitu kolom satu 6, kolom dua 10 dan kolom tiga 5. Selanjutnya dari tiga nilai terbesar tersebut, pilih nilai yang paling baik atau kecil bagi B, yakni 5, mengapa karena (rugi yang paling kecil).
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
2
10
4
2
Harga
Murah (S1)
Strategi
6
8
5
5
Harga
Mahal (S2)
Minimax
6
10
5
Langkah 3
Karena pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B sudah sama, yakni masing-masing memilih nilai 5, maka permainan ini sudah dapat dikatakan optimal sudah ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.
Kesimpulan
Hasil optimal di atas, dimana masing-masing perusahaan memilih nilai 5, artinya bahwa perusahaan A meskipun menginginkan keuntungan yang lebih besar, namun hanya akan mendapat keuntungan maksimal sebesar 5, bila menggunakan strategi harga mahal (S2). Sedangkan perusahaan B, meskipun menginginkan kerugian yang diperoleh adalah sekecil mungkin, namun kerugian yang paling baik bagi B adalah 5, dan itu bisa diperoleh dengan merespon strategi yang digunakan A dengan memilih strategi harga mahal (S3).
Pemilihan strategi selain yang direkomendasikan di atas akan berdampak pada menurunnya keuntungan bagi perusahaan A dan meningkatnya kerugian bagi perusahaan B, atau tidak dapat diselesainya persaingan atau permainan yang ada.
3 Studi Kasus Strategi Campuran
Dari kasus diatas, karenaadanya perkembangan pasar, maka perusahaan A, yang tadinya hanya memiliki produk dengan harga murah dan mahal. Sekarang menambah satu lagi strategi bersaingnya dengan mengeluarkan produk harga sedang, dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
Harga
Mahal (S3)
Dari perkembangan kasus di atas, bagaimana strategi yang harus digunakan oleh masing-masing perusahaan atau pemain, agar masing-masing mendapatkan hasil yang optimal (kalau untung, keuntungan tersebut besar, dan kalau harus rugi maka kerugian tersebut adalah paling kecil).
4 Penyelesaian Strategi Campuran
Langkah 1
Pertama-tama kita selesaikan dengan menggunakan strategi murni. Langkah-langkahnya sama dengan penjelasan di atas, bagi perusahaan baris akan menggunakan aturan maximin dan perusahaan kolom akan menggunakan aturan minimax. Nilai baris satu yang paling kecil nilainya adalah 4, baris dua nilainya -3, dan baris tiga nilainya 3. Selanjutnya dari dua nilai terkecil, pilih nilai yang paling besar, yaitu 4.
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
-3
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
3
Harga
Mahal (S3)
Langkah 2
Untuk pemain kolom, pilih nilai yang paling besar untuk setiap kolom. Kolom satu terbesar 8, kolom dua terbesar 7, dan kolom tiga terbesar 15. Dari tiga nilai terbesar dipilih nilai yang paling baik atau kecil yaitu 7 ( rugi yang paling kecil).
Perusahaan B
Maximin
Strategi
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
Mahal (S3)
Perusahaan A
Strategi
4
7
10
4
Harga
Murah (S1)
Strategi
-3
6
15
-3
Harga
Sedang (S2)
Strategi
8
3
5
3
Harga
Mahal (S3)
Maximin
8
7
15
Langkah 3
Dari table diatas terlihat bahwa pilihan pemain baris-A dan pemain kolom-B tidak sama dimana pemain A memilih nilai 4 dan pemain B memilih nilai dengan demikian maka permainan ini dapat dikatakan belum optimal karena belum ditemukan nilai permainan (sadle point) yang sama.
Oleh karena itu perlu dilanjutkan dengan menggunakan strategi campuran, yaitu langkahnya sebgai berikut:
Langkah 4
Masing-masing pemain akan menghilangkan strategi yang menghasilkan keuntungan dan kerugian yang paling buruk. Bagi A (S2) adalah strategi terburuk, karena dapat menimbulkan kerugian ( ada minus). Dan bagi B (S3) adalah paling buruk karena dapat menimbulkan kerugian terbesar.
Langkah 5
Setelah pemain A membuang strategi S2 dan pemain B membuang strategi S3, diperoleh table sebagai berikut:
Perusahaan B
Strategi
Strategi
Harga
Harga
Murah (S1)
Sedang (S2)
(q)
(1-q)
Perusahaan A
Strategi
4
7
Harga
Murah (S1)
(p)
Strategi
8
3
Harga
Mahal (S3)
(1-p)
Perhatikan bahwa setelah masing-masing membuang strategi yang paling buruk. Selanjutnya adalah dengan memberikan nilai probabilitas terhadap kemungkinan digunakannya kedua strategi bagi masing-masing perusahaan. Untuk perusahaan A, bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 adalah sebesar p, maka kemungkinan keberhasilan digunakan strategi S3 adalah (1-p). Begitu pula pemain B, bila kemungkinan keberhasilan penggunaan strategi S1 sebesar q, maka kemungkinan keberhasilan digunakan strategi S2 (1-q).
Langkah 6
Mencari besaran probabilitas setiap strategi untuk menghitung sadle point yang optimal.
Untuk perusahaan A
Bila strategi A direspon B dengan S1:
4p + 8(1-p) = 4p + 8 – 8p = 8 – 4p
Bila strategi A direspon B dengan S2:
7p + 3(1-p) = 7p + 3 – 3p = 3 + 4p
Kedua persamaan digabungkan, maka:
8 – 4p = 3 + 4p
5 = 8p
P = 5/8 = 0,625
Apabila p= 0,625, maka nilai (1-p) adalah (1-0,625) =0,375, sehingga kedua probabilitas untuk strategi S1 dan S3 milik perusahaan A sudah diketahui nilainya. Keuntungan yang diharapkan oleh perusahaan A adalah:
Pers ke-1 Pers ke-2
= 4p + 8 (1-p) = 7p + 3 (1-p)
= 4(0,625) + 8 (0,375) = 7 (0,625) + 3 (0,375)
= 5,5 = 5,5
Perhatikan, bahwa keduanya menghasilkan keuntungan yang diharapkan adalah sama yakni sebesar 5,5, yang berarti memberikan peningkatan sebesar 1,5. Mengingat keuntungan A hanya 4 (langkah 1).
Langkah 7
Perhitungan untuk perusahaan B adalah sebagai berikut:
Bila strategi B direspon A dengan S1:
4q + 7 (1-q) = 4q + 7 – 7q = 7 – 3q
Bila strategi B di respon A dengan S2:
8q + 3(1-q) = 8q + 3 – 3q = 3 + 5q
Bila digabung pers, diatas diperoleh:
7 – 3q = 3 + 5q
4 = 8q
q = 4/8 = 0,5 maka (1-q) = (1 - 0,5) = 0,5
Pers. ke-1 Pers. ke-2
= 4q + 7 (1-q) = 8q + 3 (1-q)
= 4 (0,5) + 7 (0,5) = 8 (0,5) + 3 (0,5)
= 5,5 = 5,5
Kerugian minimal yang diharapkan sama, yaitu 5,5. Pada langkah pertama kerugian minimal adalah 7, dengan demikian dengan strategi ini B bisa menurunkan kerugian sebesar 1,5.
Kesimpulan
Strategi campuran memberikan saddle point 5,5. Nilai tersebut memberi peningkatan keuntungan bagi perusahaan A dan penurunan kerugian bagi perusahaan B masing-masing sebesar 1,5.
METODE PENCABANGAN DAN PENYIMPULAN
(BRANCH AND BOUND METHODS)
Metode pencabangan dan penyimpulan (branch and bound methods) adalah suatu teknik dalam mencari solusi suatu permasalahan yang tidak merujuk pada suatu prosedur yang spesifik tapi lebih merupakan suatu pendekatan umum tidak memecahkan berbagai tipe permasalahan. Berikut ini adalah pembahasan berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan dengan pemecahan melalui metode (branch and bound methods).
1 Studi Kasus
Penugasan staf ahli keuangan dalam mengaudit keuangan perusahaan di kantor cabang PT. Dwi Tunggal. Tersebar di beberapa kota, yang bergerak atau beroperasi dalam bidang konveksi Datanya sebagai berikut:
Staf Ahli Perusahaan
Kantor Cabang
Surabaya
Makasar
Bali
Batam
Padang
1.
5
16
25
32
15
2.
40
20
18
22
10
3.
10
12
14
35
20
4.
15
30
21
17
11
5.
20
10
15
12
30
PT. Dwi Tunggal ingin membuka kantor cabang di beberapa daerah, pemilik perusahaan ingin menugaskan staf ahli perusahaan sesuai bagiannya ke
lima daerah tersebut agar mendapatkan anggota yang maksimum. Solusi persoalan penugasan dengan menggunakan algoritma branch and bound.
2 Penyelesaiannya
Langkah pertama kita tugaskan seluruh staf ahli perusahaan ditugaskan ke kantor cabang yang berada di Surabaya, seperti ini pencabangannya:
Gambar 1. Branching dan Bonding
Selanjutnya kita membuat partisi atas set dari 25 kemungkinan penugasan kedalam lima subset. Subset pertama terdiri dari semua penugasan dimana staf ahli perusahaan ditugaskan ke daerah Surabaya. Kesemuanya ini akan di tujunkan oleh sebuah Node yang bercabang dari Node 0 seperti ditujukan pada gambar 1.
Bonding ( Penyatuan / Ikatan ).
Simpul (Node) pada ujung-ujung cabang dari struktur pohon disebut sebagai simpul ujung (tip nods), maka diperoleh lima tip nodes. Hitung “Upper Bound
O
LB = 0
1 = Surabaya
UB = 121
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
(UB)” dari masing-masing Up nods yang akan memberikan solusi yang paling optimistic dari persoalan tersebut.
1. Start Node 1
Staf ahli perusahaan ke-1 yang ditugaskan ke daerah Surabaya adalah: 5 + 30 + 21 + 35 + 30 = 121 (upper bound). Bahwa UB = 121 berkorespondensi dengan sebuah Infeasible Assignment sebut saja: 1 – Surabaya, 4 – Makasar, 4 – Bali, 3 – Batam, 5 - Padang.
2. Node-2:
Tugaskan staf ke- 2 ke daerah Surabaya adalah: 40 + 30 + 25 + 35 + 30 = 160, ini menunjukan sebuah Fesiable Assignment. 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang.
3. Node-3
Tugaskan staf ahli ke-3 kedaerah Surabaya adalah: 10 + 30 + 25 + 32 + 30 = 127, ini menunjukan sebuah Infesiable Assignment. 3- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 1- Batam, 5- Padang.
4. Node-4
Tugaskan staf ahli ke-4 kedaerah Surabaya adalah: 15 + 20 + 25 + 35 + 30 = 125, ini menunjukan sebuah Fesiable Assignment. 4- Surabaya, 2- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang.
5. Node-5
Tugaskan staf ahli ke-5 ke daerah Surabaya adalah: 20 + 30 + 25 + 35 + 20 = 130, ini menunjukan sebuah Infeasible Assignment. 5- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 3- Padang.
Dari nodes pada gambar 1 dapat diartikan, sebagai berikut:
Node 0 : Menunjukan set dari semua kemungkinan penugasan staf ahli perusahaan pada kantor cabang di daerah.
Node 1 : Menunjukan subset dari penugasan yang menunjukan staf ke-1 pada daerah Surabaya, dan berlaku untuk seterusnya node 2, 3, 4, dan 5.
Fathoming
Adalah proses penempatan Node yang mana tidak “menjanjikan” dan apakah suatu Lower Bound yang baru untuk persoalan ini dapat ditentukan dalam memcahkan persoalan penugasan proses fathoming terdiri atas langkah-langkah berikut:
A. Periksalah top nodes yang baru untuk melihat apakah sebuah atau lebih node tersebut menunjukan suatu solusi yang feasible. Bila tidak ada feasible solution di antara tipe – node yang baru lanjutkan kelangkah (c), bila ya lanjutkan ke langkah (B).
B. Pilih solusi feasible yang memiliki nilai UB yang terbesar. Bila nilai UB ini kemudian “disimpan” sebagai “calon” solusi sekarang kita katakan bahwa solusi baru ini telah di fathomed dan tidak kita butuhkan lagi untuk mempertimbangkan tip node ini pada langkah branching.
C. Fathom semua top node yang nilai UB nya kurang dari atau semua dengan nilai calon saat ini ( Current Incumbent ).
fathomed
Gambar 2. Branching dan Bonding
Pada kasus ini kita memperoleh suatu solusi feasible untuk persoalan ini yakni memilih nilai 160 seperti ditujunkan oleh node 2. Hal ini memberitahukan
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
bahwa solusi optimal pada persoalan penugasan memiliki sebuah nilai uang sekurang-kurangnya sebesar 160. Node 2 sekarang dapat di fathomed yakni tidak perlu lagi untuk mempertimbangkan node 2 atau persoalan ini dari LB = 0 ke LB = 160 ( pada node 0 ) top nodes yang lain adalah 1, 3, 4, dan 5. Semuanya memiliki upper bound yang kurang dari 160, sehingga kita belum bisa mem “fathom” node-node tersebut, hasil dari fathomingini ditujukan pada gambar 2.
Node 2 dengan nilai 160 disebut incumbent solusi (calon). Ia akan tetap sebagai calon solusi hingga solusi feasible lain yang memiliki nilai yang lebih tinggi didapatkan. Perlu diingat bahwa alas an menyebut 160 sebagai upper bound, suatu solusi feasible. Jadi solusi optimal atas persolan ini akan lebih kecil atau sama dengan 160.
Langkah 2: PENUGASAN PADA DAERAH MAKASAR
1. BRANCHING / PENCABANGAN
Daerah Surabaya
Fathomed Daerah Makasar
Gambar 3. Branching dan Bonding
Masih ada empat subet yang belum di Fathomed ( node 1, 3, 4, dan 5 ) selanjutnya pilih salah satu dari percabangan ( branching ). Pilih yang memiliki
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
1 = Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
UB tertinggi, yakni node 2, staf ke-2 ditugaskan pada daerah Surabaya. Sehingga tinggal staf 1, 3, 4, dan 5 yang ditugaskan pada daerah selanjutnya atau daerah Makasar.
2. Bounding
Untuk node 2 tidak ikut dalam penugasan ke daerah makasar, karena sebagai incumbent solution ( calon ), dan karena masih belum sempurna dalam penugasan yaitu masih adanya infesiable maka dipilih UB terbesar yaitu, node 2 UB = 160.
Untuk penugasan ke daerah Makasar
1. Node- 1
Tugaskan staf ke- 1 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 1- Makasar, 4- Bali, 3- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 16 + 21 + 35 + 30 = 142. Feasibel.
2. Node- 3
Tugaskan staf ke- 3 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 3- Makasar, 1- Bali, 1- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 12 + 25 + 32 + 30 = 139. Infeasibel.
3. Node- 4
Tugaskan staf ke- 4 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 5- Padang. UB = 40 + 30 + 25 + 35 + 30 = 160. Feasibel.
4. Node- 5
Tugaskan staf ke-5 pada daerah Makasar yaitu: 2- Surabaya, 5- Makasar, 1- Bali, 3- Batam, 3- Padang. UB = 40 + 10 + 25 + 35 + 20 = 130. Infeasibel.
Karena masih ada yang belum feasible, maka dilakukan percabangan kembali, dengan melihat nilai terbesar pada UB, yaitu: pada Node- 4 dengan UB = 160. Tapi untuk Node- 4 tidak perlu ikut penugasan ke daerah selanjutnya yaitu Bali. Berikut ini adalah percabangannya.
Daerah Surabaya
Fathomed
Gambar 4. Branching dan Bonding
Berdasarkan data keterangan diatas, bahwa aka nada penugasan staf ke daerah bali mereka itu: 1- bali, 3- bali, dan 5- bali.
1. Node- 1
Tugaskan staf ke-1 pada daerah Bali, yaitu: 1- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 3- Batam, 5- Padang. UB = 25 + 40 + 30 + 35 + 30 = 160. Feasible.
2. Node- 3
Tugaskan staf ke- 3 pada daerah Bali, yaitu: 3- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Batam, 5- Padang. UB = 14 + 40 + 30 + 35 + 30 = 146. Feasible.
3. Node- 5
Tugaskan staf ke- 5 pada daerah Bali, yaitu: 5- Bali, 2- Surabaya, 4- Makasar, 3- Batam, 3- Padang. UB = 15 + 40 + 30 + 35 + 20 = 140. Infeasible.
Karena masih ada yang belum feasible maka penugasan masih harus berlangsung ke daerah terakhir yaitu padang. Nilai UB terbesar ada pada Node- 1, maka node- 1 tidak ikut ke penugasan itu yang ikut hanya node- 3 dan 5. Berikut adalah pencabangannya:
O
LB = 160
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1 = Surabaya
UB = 121
1 = Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
Daerah Makasar
F
i
i
i
1 = Bali
UB = 160
3 = Bali
UB = 146
5 = Bali
UB = 140
Daerah Bali
Bounding
Penugasan staf ahli perusahaan ke kantor cabang di daerah-daerah berikut:
1. 3- Batam, 5- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160. Feasible.
2. 5- Batam, 3- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
12 + 20 + 40 + 30 + 25 = 127. Feasible.
Fathoming
Feasible solution = 160. Fathomed semua tip node lain karena mereka memiliki UB valvue = 160.
Stop
Pencabangan dihentikan karena sudah mendapatkan solusi optimal disini.
Solusi optimal.
Adalah calon sembarang ( “current incumbent” )
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160.
KESIMPULAN
Maka pemimpin perusahaan dapat menugaskan staf ahli perusahaan ke kantor cabang didaerah-daerah tersebut:
0
LB = 160
1= Surabaya
UB = 121
2 = Surabaya
UB = 160
3 = Surabaya
UB = 127
4 = Surabaya
UB = 125
5 = Surabaya
UB = 130
1= Makasar
UB = 142
3 = Makasar
UB = 139
4 = Makasar
UB = 160
5 = Makasar
UB = 130
1= Bali
UB = 160
3 = Bali
UB = 146
5 = Bali
UB = 130
3= Batam
UB = 160
5 = Batam
UB = 142
Staf ahli perusahaan 3 dapat ditugaskan ke kantor cabang yang berada didaerah Batam. Staf ahli perusahaan 5 dapat ditugaskan ke kantor cabang yang berada didaerah Padang. Staf ahli perusahaan 2 dapat ditugaskan kekantor cabang didaerah Surabaya. Staf ahli perusahaan 4 dapat ditugaskan ke kantor cabang 1 didaerah Makasar. Staf ahli perusahaan dapat ditugaskan ke kantor cabang didaerah Bali. \
Jadi permasalahan pada perusahaan ini sudah dapat diselesaikan, penugasan staf ahli perusahaan sudah memperoleh kontrak personil yang maksimum.
3- Batam, 5- Padang, 2- Surabaya, 4- Makasar, 1- Bali
35 + 30 + 40 + 30 + 25 = 160. Feasible.
MAKROV CHAIN
Disebuah pusat perbelanjaan sedang diadakan pameran Handphone terbaru selama 2 hari. Dengan criteria harga dan kualitas yang berberda, yaitu harga sedang dengan kualitas baik, dan harga tinggi dengan kualitas lebih baik. Dari pameran tersebut ingin mengetahui tingkat penjualan handphone yang paling diminati oleh para konsumen.
Dari hasil pameran tersebut selama 2 hari, tiap harinya dipilih 100 orang dengan data sebagai berikut:
Tipe
Hari
Pertama
Kedua
A
60
40
B
80
20
Keterangan:
Tipe A: Harga sedang kualitas baik
Tipe B: Harga mahal kualitas lebih baik
Dari data di atas buatlah probabilty matrix pengunjung lebih menyukai Handphone yang mana?
Solusi
State 1: konsumen memilih Tipe A
State 2: konsumen memilih Tipe B
P= = = = X
π 1 = 0,7 π 1 + 0,8 π 2
π 2 = 0,3 π 1 + 0,2 π 2
π 1 = 0,7 (1 - π 2) + 0,8 π 2
π 1 = 0,7 - 0,7 π 2 + 0,8 π 2
π 1 = 0,7 + 0,1 π 2
1 - π 2 = 0,7 + 0,1 π 2
0,3 = 0,9 π 2
π 2 = 0,3/0,9
= 0,33
π 1 + π 2 = 1
π 1 = 1 - 0,33
= 0,67
Jadi probability untuk state 1 sebesar 0,67 dan untuk state 2 sebesar 0,33. Pengunjuk lebih banyak membeli Handphone dengan Tipe A (harga sedang dengan kualitas baik), di banding Handphone dengan Tipe B (harga mahal dengan kualitas lebih baik).
POHON KEPUTUSAN
Perusahaan Garmen “Benang Sari” adalah perusahaan garmen yang memproduksi berbagai jenis pakaian yaitu: kaos, kemeja, jeans, dan jaket. Semula kaos merupakan produk yang paling unggul. Pada trendnya penjualan kaos dapat mencapai 65% dari seluruh penjualan kaos di pasaran. Tetapi akhir-akhir ini penjualan kaos tersebut sedikit menurun, dan tinggal menguasai 18% dari seluruh penjualan kaos di pasaran.
Melihat kodisi seperti itu pihak perusahaan melakukan tindakan secepatnya, agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang terus meningkat. Pihak perusahaan dihadapi oleh 3 pilihan, pilihan pertama dengan mengadakan kegiatan pengembangan produk yang tujuannya untuk meningkatkan kualitasnya: kedua, meneruskan penjualan kaos tanpa mengadakan perubahan apapun: ketiga, menghentikan produksi kaos seluruhnya.
Apabila ia melakukan pengembangan produk peluang untuk berhasil sebesar 0,90 dengan keuntungan 300 juta dan peluang gagal sebesar 0,10 dengan kerugian sebesar 30 juta. Apabila ia tetap tanpa mengadakan perubahan apapun peluang berhasil sebesar 0,30 dengan keuntungan 150 juta dan peluang untuk gagal sebesar 0,70 dengan kerugian 105 juta.
Pemilik perusahaan tidak yakin dengan keputusan tersebut manankah yang terbaik yang akan diplih, jadi buatlah diagram keputusan dari kasus diatas.
Produk Baru
Stop Line Kaos
Produk lama
Berhasil
Gagal
Berhasil
Gagal
300 juta
- 30 juta
150 juta
105 juta
0.90
0.10
0.30
0.70
b. Probabilitas Penambahan menu akan berhasil
P ( Berhasil) = 0,90
P (Gagal) = 0,10
Probabilitas menu seperti biasa
P ( Berhasil) = 0.30
P (Gagal) = 0.70
Tambah menu = ( 0.90 x 300.000.000 ) + ( 0.10 x (-30.000.000) )
= 270.000.000 - 3.000.000 = Rp. 267.000.000,-
Menu seperti biasa = ( 0.30 x 150.000.000 ) + ( 0.70 x (-50.000.000 )
= 45.000.000 - 35.000.000 = Rp.10.000.000 ,-
Jadi Pemilik perusahaan harus melakukan pengembangan produk untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
TEORI ANTRIAN
Kedatangan penumpang kereta api yang sedang antri membeli tiket di loket, mengikuti distribusi poisson dengan tingkat kedatangan rata-rata 17 / jam. Misalkan secara rata-rata setiap penumpang dilayani 2 menit dan waktu pelayanan mengikuti distribusi eksponensial. Setelah system dalam keadaan steady state, tentukan hal-hal berikut!
a. Probabilitas 4 pengantri dalam system (P4)
b. Rata-rata banyaknya pengantri dalam system (L)
c. Rata-rata banyaknya pengantri yang sedang antri (Lq)
d. Rata-rata waktu menunggu dalam system (W)
e. Rata-rata waktu antri (Wq)
f. Proporsi waktu nganggur pelayanan
Jawab:
Tingkat kedatangan rata-rata (λ) = 17/jam
Tingkat pelayanan rata-rata (μ) = 20/jam
R = 17/20 = 0,85
a. P4 = (1-R) (Rn)
= ( 1- 0,85) ( 0,852)
= 0,108375
b. L = = 0,85 / 0,15 = 5,67 penumpang
c. Lq = = (0,85)2 / ( 0,15) = 4,82 penumpang
d. W = = 1 / 20 – 17 = 0,34 jam = 20, 4 menit
e. Wq = = = 0,28 jam = 16, 8 menit
f. Po atau I = 1 – R = 1 – 0,85 = 0,15
Kesimpulan
Rata-rata banyak pengantri dalam system sekitar 5 penumpang, waktu untuk mengantri sekitar 17 menit dan waktu menunggu dalam system sekitar 20, 4 menit.
Langganan:
Postingan (Atom)